PRANATA SOSIAL - SISTEM NILAI BUDAYA
PENGARUH TEKNOLOGI TERHADAP PRANATA SOSIAL & ORIENTASI NILAI BUDAYA
Eunike Oktavia
19310410010
Dosen Pengampu : Amin Nurohmah, S.Pd., M.Sc.
Artikel ini Dibuat Untuk Memenuhi Tugas Ilmu Budaya Dasar
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
Dalam kehidupan bermasyarakat, sejatinya manusia memiliki kesempatan untuk berpindah dari satu pranata ke pranata lain. Kenyataan yang terjadi, tidak semua manusia memiliki kesempatan untuk berpindah pranata sosial. Ada beberapa manusia yang menghabiskan waktunya hanya pada satu pranata sosial dalam kurun waktu yang panjang. Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu. Daftarkan email Apabila manusia memiliki kesempatan untuk berpindah pranata sosial, berarti terjadi hubungan yang saling mempengaruhi di antara pranata-pranata sosial yang ada dalam masyarakat. Dalam buku Pengantar Ilmu Antropologi (1990) karya Koentjaraningrat, pranata sosial merupakan sistem tata kelakuan dan hubungan yang berpusat pada aktivitas-aktivitas untuk memenuhi kompleks-kompleks kebutuhan khusus dalam kehidupan masyarakat atau pola-pola resmi yang mengatur hubungan antar individu dalam masyarakat.
Perkembangan teknologi berujung pada revolusi komunikasi serta berpengaruh terhadap perkembangan masyarakat. Aktivitas masyarakat tidak terlepas dari teknologi yang digunakan semenjak jaman sebelum masehi hingga memasuki era millenium digital saat ini. Mulai dari masyarakat yang mengandalkan teknologi sederhana dengan menggunakan daun, tanah liat untuk menulis pesan informasi kepada khalayak hingga penggunaan teknologi paling canggih saat ini. Teknologi membawa perkembangan dalam masyarakat dan ditunjukan dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam aspek politik, ekonomi, sosial serta budaya. Celakanya kemudahan dalam berteknlogi membawa hubungan sosial yang tadinya rekat menjadi berjarak karena penemuan teknologi. Masyarakat seolah tidak mengindahkan nilai-nilai sosial sebelumnya karena dianggap tidak efisien dengan tingkat mobilitas masyarakat saat ini yang tinggi. Teknologi juga memunculkan ketimpangan dalam masyarakat dimana kepemilikan alat-alat elektronik kemudian menggolongakan masyarakat tertentu kedalam kelompok sosial bawah, menengah atau atas.
Sementara itu dari aspek budaya, perkembangan teknologi membawa pengaruh yang begitu besar terutama pada anak muda bangsa. Teknologi menghadirkan pengetahuan baru bagi pembacanya, namun celakanya pengetahuan tersebut kemudian menjadi sesuatu yang kemudian disebut sebagai suatu nihilisme. Teknologi membantu penyebaran bahasa inggris keseluruh dunia dan kemudian menjadikan bahasa tersebut sebagai bahasa resmi yang dipakai diseluruh dunia dan setiap negara mengajarkan bahasa inggris kepada pelajar bahkan sejak usia dini. Bila dilihat fenomena penggunaan bahasa inggris di Indonesia, masyarakat seolah lebih bangga menggunakan bahasa negara lain ketimbang bahasa sendiri karena banyak yang lebih paham bahasa inggris ketimbang bahasa daerah. Kemudian tayangan informasi yang disajikan melalui TV ataupun internet mengenai remaja-remaja diluar negeri beserta gaya hidup disana pun coba diikuti oleh remaja kita di Indonesia. Banyak anak-anak muda yang melakukan seks diluar nikah saat usia sekolah tanpa pendidikan seks sejak dini, hal ini tentunya telah menyalahi adat serta nilai-nilai ketimuran bangsa ini.
Definisi yang
berkaitan dengan budaya dapat diartikan
sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan
akal manusia menurut Wahyu (2008:95). Kluckhohn kelima masalah pokok tersebut adalah: (1)
masalah hakekat hidup, (2) madalah hakekat karya, (3) masalah persepsi manusia
tentang waktu, (4) masalah pandangan manusia terhadap alam, dan (5) hakekat
dari hubungan antara manusia dengan sesamanya. Berbagai
kebudayaan mengkonsepsikan masalah
universal ini dengan berbagai variasi
yang berbeda-beda. Seperti masalah pertama,
yaitu mengenai hakekat hidup manusia. Namun bagaimana pun juga,
hidup itu bisa baik dan bisa juga buruk, tergantung bagaimana kita
menyikapi kehidupan itu sendiri. Nasib kita memang sudah ditentukan oleh
Allah, tapi bukan kah ada nasib yang bisa kita rubah. Kita harus yakin
kalo kita berusaha dengan sungguh-sungguh nasib kita pasti bisa berubah. Masalah
kedua mengenai hakekat karya dalam kehidupan. Ada kebudayaan yang memandang bahwa
karya itu sebagai usaha untuk kelangsungan hidup (survive) semata. Masalah
ketiga mengenai persepsi manusia tentang waktu. Ada budaya yang memandang
penting masa lampau, tetapi ada yang melihat masa kini sebagai fokus usaha
dalam perjuangannya. Masalah keempat berkaitan dengan pandangan manusia
terhadap alam. Ada yang percaya bahwa alam itu dahsyat dan mengenai kehidupan
manusia. Sebaliknya ada yang menganggap alam sebagai anugerah Tuhan Yang Maha
Esa untuk dikuasai manusia. Akan tetapi, ada juga kebudayaan ingin mencari
harmoni dan keselarasan dengan alam. Cara pandang ini juga berpengaruh terhadap
pola aktivitas masyarakat. Masalah kelima menyangkut hubungan antar manusia
dengan sesamanya. Dalam banyak kebudayaan hubungan ini tampak dalam bentuk orientasi
berfikir, cara bermusyawarah, mengambil keputusan dan bertindak. Kebudayaan
yang menekankan hubungan horizontal (kolateral) antar individu, cenderung untuk
mementingkan hak asasi,
kemerdekaan dan kemandirian.
sumber :
https://binus.ac.id/malang/2018/07/keterkaitan-antara-perkembangan-teknologi-informasi-dan-komunikasi-dengan-tipologi-perkembangan-masyarakat/ (diakses pada 28 Oktober 2021)
Wahyu, Ramdani. 2008. Ilmu Budaya Dasar. Bandung: CV pustaka Setia.

Komentar
Posting Komentar